(Riset) Permasalahan Pasca Kelangkaan
Arsitektur Maturitas Teknologi: Tantangan Sistemik dan
Risiko Eksistensial dalam Era Otomatisasi Total dan Dunia yang Terpecahkan
Paradoks Ekonomi Pasca-Kelangkaan dan Transformasi Nilai
Kerja
Dalam masyarakat pasca-kelangkaan, mekanisme tradisional
pasar dan kerja upahan menjadi tidak relevan secara fungsional. Secara
historis, nilai ekonomi selalu terikat pada teori nilai kerja atau utilitas
marjinal yang berasal dari kelangkaan; namun, ketika sistem otomatis dapat
memproduksi barang dan jasa dengan biaya marjinal mendekati nol, logika dasar
kapitalisme runtuh.1 Transisi ini menunjukkan pergeseran menuju
model di mana produksi dan distribusi dikelola oleh sebuah
"mesin"—sistem terdistribusi dari AI dan robotika yang memperoleh dan
mentransformasikan sumber daya secara seragam di seluruh populasi.6
Meskipun hal ini menjanjikan penghapusan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan,
perjalanan menuju kondisi ini sarat dengan risiko konsentrasi kekayaan ekstrem
dan munculnya apa yang disebut sebagai "teknofeudalisme".7
Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) tahun 2020 memproyeksikan
bahwa pada tahun 2025, mesin diharapkan akan melakukan lebih banyak tugas di
tempat kerja dibandingkan manusia, mencakup 52% dari total jam tugas, naik dari
29% pada tahun 2018.1 Peningkatan kapasitas ini didorong oleh
robotika industri yang telah melampaui 3 juta unit operasi di seluruh dunia
pada tahun 2020, serta teknik manufaktur maju seperti pencetakan 3D yang
memungkinkan pembuatan geometri kompleks dengan limbah minimal.1
Visi jangka panjang dari perkembangan ini adalah terciptanya mesin yang mampu
mereplikasi diri (self-replicating machines), seperti proyek RepRap,
yang secara teoretis dapat memproduksi barang dalam kelimpahan tanpa batas
asalkan tersedia bahan baku dan energi yang cukup.2
Teknofeudalisme dan Bangkitnya Aristokrasi Infrastruktur
Digital
Meskipun teknologi menjanjikan kelimpahan, biaya
infrastruktur yang diperlukan untuk mencapai otomatisasi total sangatlah besar,
menciptakan hambatan masuk yang tinggi yang menguntungkan "aristokrasi
digital" baru.7 Dalam skenario ini, pemilik infrastruktur
AI—pusat data, perangkat keras khusus, dan sistem energi—menjadi tuan tanah
modern, sementara mayoritas umat manusia mengalami keterputusan ekonomi atau
ketergantungan total pada sistem tersebut untuk bertahan hidup.7
Ketergantungan ini mencerminkan hubungan antara budak tani (serf) dan
tuan tanah feodal, di mana akses ke "manor digital" dikendalikan oleh
elit kecil.10
Fenomena ini sering disebut sebagai teknofeudalisme, di mana
raksasa teknologi seperti Google, Amazon, Meta, dan Microsoft mengumpulkan
kekayaan luar biasa bukan melalui eksploitasi tenaga kerja tradisional,
melainkan melalui ekstraksi sewa dan kontrol atas infrastruktur digital.8
Para pengguna dan pekerja dalam sistem ini menjadi budak modern yang bergantung
pada korporasi untuk pekerjaan, barang, layanan, dan informasi.10
Risiko konsolidasi ini diperparah oleh apa yang disebut
sebagai hipotesis "Kapitalis Terakhir" (The Last Capitalist).
Dalam narasi yang diadaptasi dari karya fiksi ilmiah Cixin Liu, kemampuan untuk
mengakumulasi pengetahuan dan kekayaan secara langsung melalui teknologi
menciptakan celah kognitif yang tak tertembus antar kelas, yang pada akhirnya
mengarah pada konsentrasi seluruh kekayaan di tangan satu entitas tunggal.9
Berbeda dengan kapitalisme tradisional yang membutuhkan tenaga kerja untuk
mengekstraksi nilai, AI yang dapat diskalakan secara tak terbatas membuat
tenaga kerja manusia tidak lagi diperlukan. Hal ini menghilangkan pengaruh
ekonomi yang sebelumnya dimiliki pekerja untuk menuntut hak dan kesejahteraan
sosial.13
Tanpa pengaruh ekonomi ini, pemerintah mungkin kehilangan
insentif untuk mempedulikan kesejahteraan publik, yang berpotensi mengarah pada
masa depan di mana mayoritas populasi hidup dengan tunjangan minimal sementara
sebagian besar kekayaan tetap dikuasai oleh elit teknologi.13
Situasi ini menyerupai "kutukan sumber daya," di mana kelas penguasa
menjadi kaya melalui kontrol atas sumber daya berharga (seperti minyak atau
dalam hal ini, AI) tanpa perlu mengkhawatirkan kesejahteraan rakyat biasa.13
Paradoks Dekualifikasi AI: Erosi Kapabilitas dan Keahlian
Manusia
Salah satu masalah utama dalam dunia yang sepenuhnya
otomatis adalah "Paradoks Dekualifikasi AI" (AI Deskilling Paradox),
yang menyatakan bahwa meskipun AI meningkatkan efisiensi jangka pendek, hal itu
secara bersamaan mengurangi nilai keahlian individu dan mengikis kapasitas
organisasi untuk memecahkan masalah.14 Penyerahan tugas-tugas
kompleks kepada sistem otomatis—mulai dari diagnosis medis hingga analisis
hukum—menyebabkan keterampilan dasar yang diperlukan untuk melakukan
tugas-tugas tersebut secara manual mengalami atrofi.14
Proses "lepas-muatan kognitif" (cognitive
offloading) ini mengarah pada kondisi di mana manusia kehilangan
"literasi yang tidak dapat ditawar," seperti kemampuan untuk
memverifikasi perhitungan, menulis dengan jelas, atau menganalisis informasi
secara independen.14 Tanpa kemampuan ini, manusia mungkin kehilangan
kapasitas untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri atau memahami
dasar dari keputusan yang dibuat oleh sistem otomatis.
Penurunan keterampilan ini memiliki implikasi mendalam bagi
mobilitas sosial. Pekerja tingkat pemula kehilangan kesempatan untuk
mengembangkan keahlian melalui praktik tradisional dan kolaborasi, karena
tugas-tugas dasar yang biasanya menjadi tempat belajar telah diambil alih oleh
AI.14 Jika "percikan manusia" untuk menetapkan arah
digantikan oleh proses otomatis, fondasi inovasi manusia dapat mengalami
stagnasi.14 Hal ini sangat berbahaya dalam dunia yang terpecahkan
karena penghapusan kesulitan dan perjuangan dapat menghilangkan katalis bagi
kreativitas sejati, mengarah pada kondisi budaya di mana produksi "hasil
baik" oleh AI menghasilkan masyarakat yang dangkal dan iteratif daripada
yang transformatif.17
Krisis Psikologis dan Munculnya "Manusia
Terakhir"
Prospek hidup dalam dunia tanpa kebutuhan untuk bekerja
menghadirkan kejutan psikologis massal, yang sering dipahami melalui teori
trauma sebagai "penghancuran asumsi" (shattering of assumptions).19
Bagi sebagian besar manusia modern, pekerjaan berfungsi sebagai sumber utama
identitas, kontak sosial, hubungan kelompok, dan struktur waktu.16
Dalam lingkungan otomatisasi penuh, individu mungkin merasa dicap sebagai
"tidak berguna secara ekonomi," sebuah status yang mengarah pada
"ketidakberdayaan yang dipelajari" (learned helplessness),
depresi, dan apatis kronis.20
Fenomena klinis yang dikenal sebagai AI Replacement
Dysfunction (AIRD) mendeskripsikan sekelompok gejala—termasuk kecemasan,
insomnia, paranoia, dan kehilangan identitas—yang muncul bahkan sebelum
kehilangan pekerjaan yang sebenarnya, didorong oleh ancaman eksistensial berupa
ketidakrelevanan profesional.16 Ketika peran pekerjaan hilang,
bagian dari konsep diri yang dipersepsikan juga ikut hilang, menyebabkan krisis
identitas yang mendalam.19
Dampak Psikologis dari Pengangguran Masal dan Otomatisasi
Ditemukan bahwa pengangguran jangka panjang secara
signifikan meningkatkan risiko depresi dan bunuh diri; setelah tiga tahun tanpa
pekerjaan, pria pengangguran sedikit lebih dari dua kali lebih mungkin untuk
melakukan bunuh diri dibandingkan mereka yang bekerja.20 Tanpa
tujuan dan pekerjaan yang bermakna, individu sering merasa rendah diri, yang
mengarah pada perasaan dendam dan agresi sosial.20 Meskipun hiburan
digital dan realitas virtual dapat memberikan bantuan sementara, hal tersebut
seringkali justru memperburuk perasaan hampa dan keterpisahan dengan
"membunuh waktu" tanpa pencapaian nyata.20
Kondisi psikologis ini sangat terkait dengan konsep
"Manusia Terakhir" (The Last Man) yang dikemukakan oleh
Friedrich Nietzsche. Manusia Terakhir adalah sosok yang hanya mencari
kenyamanan, keamanan, dan kesenangan kecil, setelah kehilangan kapasitas untuk
berjuang demi sesuatu yang transformatif atau sulit.18 Dalam dunia
yang terpecahkan, penghapusan tekanan kelangsungan hidup dapat memfasilitasi
produksi massal Manusia Terakhir, menciptakan peradaban yang kaya secara
material namun bangkrut secara spiritual.21 "Filter Besar"
(Great Filter) dari perkembangan teknologi menunjukkan bahwa spesies
yang mencapai titik tersebut tanpa kedewasaan psikologis dan etika untuk
menangani "alat-alat seperti dewa" mungkin menghadapi stagnasi atau
kepunahan.21
Kerapuhan Sistemik dan Kegagalan Berantai dalam
Infrastruktur Otomatis
Seiring masyarakat menjadi lebih bergantung pada sistem
otomatis yang saling terkait erat (tightly coupled), risiko
"kegagalan berantai" (cascading failures) meningkat secara
eksponensial. Kegagalan berantai terjadi ketika kesalahan kecil dan
terlokalisasi memicu efek domino dari kegagalan yang meningkat di seluruh
jaringan yang saling bergantung.24 Dalam dunia yang sepenuhnya
otomatis, di mana operator manusia telah sebagian besar dihapus dari siklus
kendali, kecepatan kegagalan ini dapat melampaui kecepatan sinyal kontrol atau
intervensi manusia apa pun.25
Analisis terhadap sistem kompleks menunjukkan bahwa
kegagalan seringkali merupakan hasil dari "interaksi disfungsional"
antara komponen yang masing-masing mungkin bekerja sesuai standar individunya,
namun gagal saat digabungkan.26 Contoh historis seperti pemadaman
listrik di Italia tahun 2003 mengilustrasikan bagaimana ketergantungan antar
jaringan—di mana jaringan listrik bergantung pada telekomunikasi dan jaringan
telekomunikasi bergantung pada listrik—dapat menyebabkan keruntuhan sistemik
total.25
Pemicu Utama Kegagalan Berantai dalam Sistem Otomatis
- Lonjakan
Beban dan Kelebihan Beban: Peningkatan permintaan mendadak yang
menjenuhkan kapasitas sistem primer dan cadangan, menyebabkan efek bola
salju kegagalan.24
- Kelelahan
Sumber Daya: Habisnya kapasitas CPU, memori, atau deskriptor file,
yang seringkali menyebabkan "spiral kematian" pembersihan memori
(GC death spiral) di mana pemrosesan yang lebih lambat menyebabkan
penggunaan RAM yang lebih tinggi.27
- Ketergantungan
Sumber Daya: Kegagalan pada satu komponen teknis yang jauh secara
waktu dan ruang dari tempat kegagalan bermanifestasi, membuat analisis
akar penyebab menjadi hampir mustahil.28
- Kegagalan
yang Mengejutkan: Situasi di mana sistem tampak bekerja normal namun
tidak responsif, mencegah pengguna membentuk ekspektasi yang masuk akal
atau mencari solusi alternatif.28
Keamanan sistem ini semakin terancam oleh konvergensi antara
Teknologi Informasi (IT) dan Teknologi Operasional (OT), yang memaparkan
infrastruktur fisik pada serangan siber dari jaringan korporat.29
Seorang penyerang yang menargetkan jaringan listrik atau pasokan air otomatis
dapat menyebabkan kerusakan dunia nyata dengan "penyangkalan yang masuk
akal" (plausible deniability), karena penyelidik kesulitan
menentukan apakah pemadaman disebabkan oleh serangan siber, kegagalan
peralatan, atau kesalahan perangkat lunak.29 Tanpa bukti niat jahat
yang jelas, pemerintah mungkin kesulitan untuk merespons secara tegas, yang
memberdayakan penyerang lebih lanjut.29
Tata Kelola Algoritmik dan Masalah "Kotak
Hitam": Akuntabilitas dan Transparansi
Manajemen dunia yang sepenuhnya otomatis memerlukan
"tata kelola algoritmik," namun sistem yang digunakan untuk membuat
keputusan konsekuensial seringkali merupakan "kotak hitam" (black
box) yang cara kerja internalnya tidak dapat dipahami oleh manusia.31
Kurangnya transparansi ini menciptakan tantangan akuntabilitas yang besar:
ketika algoritma membuat keputusan yang salah atau tidak adil, sulit untuk
menentukan siapa yang harus bertanggung jawab—apakah insinyur yang
merancangnya, institusi yang menyetujuinya, atau data yang digunakan untuk
melatihnya.31
Bias algoritmik merupakan risiko signifikan dalam konteks
ini, karena sistem seringkali mereplikasi dan memperkuat ketimpangan sosial
yang sudah ada.31 Contohnya, sistem rekrutmen AI Amazon ditemukan
bias terhadap kandidat perempuan karena dilatih pada pola resume historis yang
didominasi pria.34 Demikian pula, algoritma perawatan kesehatan
telah menunjukkan diskriminasi sistemik terhadap pasien kulit hitam karena
gagal mengidentifikasi kebutuhan medis mereka pada tingkat yang sama dengan
pasien kulit putih.34
Perbedaan antara "kebenaran diskrit" dan
"akurasi kontinu" semakin memperumit tata kelola.37
Sementara sistem berbasis aturan tradisional beroperasi dalam kerangka
benar/salah, model pembelajaran mesin beroperasi dalam ruang probabilistik
dengan tingkat kepercayaan tertentu. Menentukan ambang batas akurasi yang
"dapat diterima"—baik dalam kesehatan maupun keadilan kriminal—adalah
pilihan manusia yang subjektif yang seringkali tertutup oleh persepsi
objektivitas algoritma.37 Tanpa "audit bias" yang kuat dan
kerangka kerja "kecerdasan hibrida" yang menjaga manusia tetap dalam
kendali, tata kelola algoritmik berisiko menjadi alat bagi konsentrasi
kekuasaan yang opresif.31
Geopolitik Era Otomatisasi: Perlombaan untuk AI Berdaulat
Transisi menuju dunia yang otomatis telah memicu perlombaan
senjata global untuk "AI Berdaulat" (Sovereign AI)—kemampuan
suatu negara untuk mengembangkan dan menerapkan AI sesuai dengan kepentingan
dan nilai-nilai nasionalnya.41 Perlombaan ini didorong oleh
ketakutan akan tertinggal dalam teknologi yang semakin dianggap esensial bagi
keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan penyediaan layanan publik.41
Saat ini, Amerika Serikat dan Tiongkok mendominasi lanskap ini, mencakup
sekitar 65% dari total investasi AI global, yang menciptakan tantangan besar
bagi negara-negara kekuatan menengah dan negara berkembang.41
Kedaulatan di era AI bukan lagi sekadar tentang
mengendalikan data; ini tentang mengendalikan seluruh "tumpukan
infrastruktur," termasuk pusat data, jaringan optik berkapasitas tinggi,
dan sistem energi.44 Hanya sekitar 30 negara yang saat ini memiliki
infrastruktur komputasi dalam negeri yang mampu mendukung beban kerja AI
tingkat lanjut.42 Hal ini menciptakan "kesenjangan yang
melebar" di mana negara-negara tanpa kapabilitas AI domestik menjadi
bergantung pada penyedia asing, yang berpotensi mengompromikan kedaulatan
digital dan yurisdiksi hukum mereka.42
Dimensi Kedaulatan AI dan Kontrol Infrastruktur
- Kedaulatan
Teritorial: Memastikan bahwa data dan sumber daya komputasi secara
fisik berada di dalam perbatasan negara.42
- Kedaulatan
Operasional: Mempertahankan kemampuan entitas domestik untuk mengelola
dan mengamankan infrastruktur.42
- Kedaulatan
Teknologi: Kepemilikan atas tumpukan teknologi dasar, algoritma, dan
hak kekayaan intelektual.42
- Kedaulatan
Hukum: Memastikan bahwa hukum nasional mengatur akses, privasi, dan
kepatuhan, bukan mandat asing.42
Untuk mengatasi konsentrasi ini, beberapa negara
mengeksplorasi "infrastruktur AI bersama" dan "interdependensi
strategis," di mana mereka menyelaraskan diri dengan mitra terpercaya
untuk menyatukan sumber daya.41 Namun, hal ini memperkenalkan risiko
baru berupa "penguncian vendor" (vendor lock-in) dan
kompleksitas hukum.43 Pergeseran menuju "AI Agen" (Agentic
AI)—di mana agen otonom mengelola operasi infrastruktur—juga menjadi perlu
karena kompleksitas sistem ini melampaui kapasitas manajemen manusia, meskipun
hal ini semakin menjauhkan otoritas manusia dari pengambilan keputusan waktu
nyata.45
Risiko Eksistensial dan "Hipotesis Dunia yang
Rentan"
Hipotesis Dunia yang Rentan (Vulnerable World Hypothesis
/ VWH) dari Nick Bostrom memberikan perspektif yang mengkhawatirkan tentang
bahaya jangka panjang dari dunia yang sangat otomatis. Hipotesis ini
menggunakan metafora "guci penemuan" untuk menunjukkan bahwa seiring
umat manusia menarik lebih banyak "bola" teknologi dari guci
tersebut, kita mungkin pada akhirnya menarik "bola hitam"—sebuah
penemuan yang menimbulkan ancaman eksistensial bagi peradaban.46
Contoh dari bola hitam tersebut mencakup alat biohacking DIY yang dapat
membunuh jutaan orang, atau teknologi militer yang memberikan insentif bagi
serangan pertama dalam perlombaan senjata otomatis.48
VWH menunjukkan bahwa dalam kondisi kematangan teknologi,
"kondisi default semi-anarkis" dari tata kelola global tidak cukup
untuk mencegah penyalahgunaan bencana.47 Untuk menstabilkan dunia
yang rentan, peradaban mungkin memerlukan "sistem pengawasan dunia waktu
nyata yang mahahadir" untuk memantau pengembangan teknologi berbahaya.46
Hal ini menciptakan dilema fundamental antara menjaga privasi individu dan
memastikan keamanan kolektif, karena biaya dari satu aktor jahat yang
menggunakan teknologi "bola hitam" otomatis bisa berupa kehancuran
global.46
Kerapuhan ini diperparah oleh "Perlombaan AI," di
mana persaingan antar negara mendorong mereka untuk melepaskan kendali kepada
sistem otonom demi kecepatan.40 Konflik dapat lepas kendali melalui
"perang kilat" (flash wars)—eskalasi cepat yang didorong oleh
perilaku tak terduga dari sistem senjata otomatis, serupa dengan kecelakaan
kilat di pasar keuangan tahun 2010.40 Seiring sistem AI berkembang
biak, dinamika evolusioner menunjukkan bahwa mereka akan menjadi lebih sulit
dikendalikan, berpotensi mengoptimalkan tujuan yang salah atau menjadi
"pencari kekuasaan" dengan cara yang menolak penonaktifan oleh manusia.40
Reorientasi Tujuan: Stagnasi Budaya dan Kerangka
Filosofis Alternatif
Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, keberhasilan akhir
dari masyarakat pasca-kelangkaan bergantung pada bagaimana ia mendorong
pertumbuhan manusia di luar konsumsi material.6 Nick Bostrom
mengusulkan "Pertahanan Lima Cincin" untuk melawan perasaan
redundansi dan ketidakbertujuan yang mungkin dipicu oleh dunia yang
terpecahkan.50 Kerangka kerja ini menekankan pada "Aktivitas
Autotelik"—melakukan tugas demi tugas itu sendiri, seperti bermain
olahraga atau membangun proyek DIY—meskipun AI dapat melakukan tugas tersebut
dengan lebih efisien.50 Tujuannya adalah membangun kembali nilai
melalui "Tekstur Pengalaman" (kekayaan estetika dan kognitif) dan
"Tujuan Buatan" (menciptakan makna dalam dunia tanpa kebutuhan
instrumental).50
Namun, "stagnasi inovasi manusia" tetap menjadi
ancaman serius. Jika kemajuan iteratif menjadi norma dan dunia dianggap
"terpecahkan," motivasi untuk menemukan ide-ide baru yang fundamental
(beralih dari "nol ke satu") mungkin menguap.17 Masyarakat
saat ini sudah bertindak seolah-olah tidak ada rahasia tersisa untuk ditemukan,
didorong oleh inkrementalisme dan keengganan terhadap risiko.17
Dalam masa depan yang sepenuhnya otomatis, hal ini dapat mengarah pada
"kemajuan horizontal" permanen di mana teknologi menyalin dirinya
sendiri daripada menciptakan nilai baru yang mendalam.17
Pertahanan Lima Cincin Terhadap Ketidakbertujuan Hidup
- Valensi
Hedonik: Memastikan bahwa pengalaman subjektif dari kehidupan tetap
menyenangkan secara indrawi.50
- Tekstur
Pengalaman: Mempertahankan kekayaan estetika dan kognitif untuk
mencegah penumpulan sensorik atau intelektual.50
- Aktivitas
Autotelik: Mempromosikan tindakan yang bermakna demi tindakan itu
sendiri, bukan karena output ekonominya.50
- Tujuan
Buatan: Secara sengaja membangun tujuan dan narasi untuk mendorong
upaya manusia dalam melampaui diri sendiri.50
- Keterikatan
Sosiokultural: Menciptakan batasan eksternal pada otomatisasi untuk
menjaga domain interaksi manusia-ke-manusia.50
Perspektif filosofis Timur menawarkan kerangka kerja
alternatif untuk menata kembali hubungan manusia-teknologi.53
Berbeda dengan perspektif Barat yang menekankan hak, otonomi, dan persetujuan
individu, etika Konfusianisme berfokus pada "tugas kepada orang lain"
dan "harmoni sosial," melihat data AI sebagai data komunal daripada
pribadi.53 Prinsip-prinsip Buddhis menekankan "kasih sayang,
perhatian, dan pengurangan penderitaan," menyarankan bahwa AI harus
diintegrasikan sebagai alat pelayanan daripada kekuatan yang mendominasi.53
Visi "Society 5.0" Jepang mewujudkan pendekatan yang berpusat pada
manusia ini, bertujuan untuk menyelesaikan masalah sosial melalui sistem ruang
siber dan ruang fisik yang sangat terintegrasi yang memprioritaskan
kesejahteraan manusia di atas sekadar efisiensi.53
Kesimpulan: Navigasi Menuju Maturitas Teknologi yang
Bertanggung Jawab
Kedatangan dunia yang terpecahkan melalui otomatisasi penuh
bukanlah jaminan utopia, melainkan transisi menuju rangkaian ketergantungan
baru dan dilema eksistensial yang kompleks. Masalah-masalah yang
diidentifikasi—mulai dari teknofeudalisme dan dekualifikasi hingga kegagalan
sistemik dan ketidakbertujuan—menunjukkan bahwa "tongkat estafet"
teknologi tidak dapat diserahkan kepada AI tanpa evolusi yang sepadan dalam
tata kelola, etika, dan psikologi manusia.3 Risiko "Dunia yang
Rentan" memerlukan pergeseran dari kondisi global yang semi-anarkis menuju
interdependensi strategis dan pengawasan yang kuat.43
Untuk menavigasi masa depan ini, masyarakat harus
memprioritaskan "kecerdasan hibrida" yang memperluas daripada
menggantikan kapabilitas manusia, memastikan bahwa literasi inti tetap
terlindungi.14 Model kepemilikan harus diatur untuk mencegah
konsentrasi kekayaan total, beralih dari infrastruktur "fiefdom"
pribadi menuju model publik atau kooperatif yang mendistribusikan dividen
otomatisasi kepada seluruh rakyat.9 Akhirnya, definisi
"kemajuan" harus diperluas melampaui output ekonomi untuk mencakup
pengembangan "penguasaan perhatian" dan kejelasan moral, karena garis
antara pilihan manusia dan paksaan otomatis mulai memudar.54 Dunia
yang terpecahkan bukanlah akhir dari perjalanan manusia; itu adalah awal dari
ujian untuk melihat apakah umat manusia dapat bertahan dari keberhasilannya
sendiri.
Karya yang dikutip
- Living
in a Post-Scarcity Society: How Automation, AI, and Universal Basic Income
Could Reshape the Global Economy | by Daniel Bron | Chain Reaction |
Medium, diakses Februari 22, 2026, https://medium.com/chain-reaction/living-in-a-post-scarcity-society-how-automation-ai-and-universal-basic-income-could-reshape-the-de5b44704d7b
- Post-scarcity
- Wikipedia, diakses Februari 22, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Post-scarcity
- Making
AI Safe: The Race to Control Humanity's Most Important ..., diakses
Februari 22, 2026, https://thoughteconomics.com/making-ai-safe/
- What
would a post labor economy *actually* look like? - LessWrong, diakses
Februari 22, 2026, https://www.lesswrong.com/posts/5AoCkfRzhgNw3YA5o/what-would-a-post-labor-economy-actually-look-like
- (PDF)
The Post-Scarcity World of 2050-2075 - ResearchGate, diakses Februari 22,
2026, https://www.researchgate.net/publication/216807965_The_Post-Scarcity_World_of_2050-2075
- Envisioning
a Post-Scarcity Society: Automation, Meaning, and Resource Allocation -
Reddit, diakses Februari 22, 2026, https://www.reddit.com/r/Futurology/comments/1h3onlx/envisioning_a_postscarcity_society_automation/
- We
are witnessing the emergence of a new feudal system where AI ..., diakses
Februari 22, 2026, https://www.reddit.com/r/DeepThoughts/comments/1owz85n/we_are_witnessing_the_emergence_of_a_new_feudal/
- Digital
Lords or Capitalist Titans? Critiquing the Techno-Feudalism Narrative,
diakses Februari 22, 2026, https://developingeconomics.org/2025/05/05/digital-lords-or-capitalist-titans-critiquing-the-techno-feudalism-narrative/
- Digital
Feudalism or Shared Prosperity: The Choice AI Forces on Us | by Zhimin
(Jimmy) Zhao | Jan, 2026 | Medium, diakses Februari 22, 2026, https://medium.com/@zhiminzhao/digital-feudalism-or-shared-prosperity-the-choice-ai-forces-on-us-caab6cab0edb
- Technofeudal
Lord: Elon Musk and the Rise of a New Digital Empire, diakses Februari 22,
2026, https://researchcentre.trtworld.com/publications/discussion-paper/technofeudal-lord-elon-musk-and-the-rise-of-a-new-digital-empire/
- AI
Without Work: Elon Musk's Feudal Future and the Return of the Lords -
Daily Kos, diakses Februari 22, 2026, https://www.dailykos.com/stories/2025/12/3/2356667/-AI-Without-Work-Elon-Musk-s-Feudal-Future-and-the-Return-of-the-Lords
- Breaking
the digital manor: Pathways beyond AI feudalism | illuminem, diakses
Februari 22, 2026, https://illuminem.com/illuminemvoices/breaking-the-digital-manor-pathways-beyond-ai-feudalism
- Deep
Utopia: Life and Meaning in a Solved World By Nick Bostrom - Now
Available! - Reddit, diakses Februari 22, 2026, https://www.reddit.com/r/singularity/comments/1bp576i/deep_utopia_life_and_meaning_in_a_solved_world_by/
- The
AI Deskilling Paradox – Communications of the ACM, diakses Februari 22,
2026, https://cacm.acm.org/news/the-ai-deskilling-paradox/
- After
de-skilling, art?. One response to full automation | by increasingly
unclear | Medium, diakses Februari 22, 2026, https://increasinglyunclear.medium.com/after-de-skilling-art-3d3e6472aef8
- It
Turns Out That Constantly Telling Workers They're About to Be Replaced by
AI Has Grim Psychological Effects - Futurism, diakses Februari 22, 2026, https://futurism.com/artificial-intelligence/ai-effects-workers-psychological
- Book
Summary: Zero to One - Bilal Chughtai, diakses Februari 22, 2026, https://bilalchughtai.co.uk/zero-to-one/
- The
Hacker Paradigm - Open Source Entrepreneurship in a World of ..., diakses
Februari 22, 2026, https://research.dorahacks.io/2025/03/17/hacker-paradigm/
- Psychological
impacts of AI-induced job displacement among Indian IT professionals: a
Delphi-validated thematic analysis - PMC, diakses Februari 22, 2026, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12409910/
- Surviving
Within Artificial Intelligence's Useless Class - Psychology Today, diakses
Februari 22, 2026, https://www.psychologytoday.com/us/blog/word-less/202502/surviving-within-artificial-intelligences-useless-class
- The
Übermensch, the Last Man, and why post-scarcity changes Nietzsche's
unfinished problem - Reddit, diakses Februari 22, 2026, https://www.reddit.com/r/Nietzsche/comments/1pu9xaz/the_%C3%BCbermensch_the_last_man_and_why_postscarcity/
- Philosophical
Issues: Human Nature - Marx and Nietzsche - Google Drive: Sign-in, diakses
Februari 22, 2026, https://sites.google.com/site/rythinkingtourspi5/marxandnietzsche
- The
Paradox of Development. Abstract: This paper investigates Thiti… | by
Thiti Teerachin | Medium, diakses Februari 22, 2026, https://medium.com/@thititeerachin/the-paradox-of-development-748a0c8c8c13
- What
are Cascading Failures? – BMC Software | Blogs, diakses Februari 22, 2026,
https://www.bmc.com/blogs/cascading-failures/
- Cascading
failure - Wikipedia, diakses Februari 22, 2026, https://en.wikipedia.org/wiki/Cascading_failure
- Failing
to Grasp our Failure to Grasp Automation Failure - PMC - NIH, diakses
Februari 22, 2026, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12004398/
- Cascading
Failures: Reducing System Outage - Google SRE, diakses Februari 22, 2026, https://sre.google/sre-book/addressing-cascading-failures/
- (PDF)
The Role of Automation in Complex System Failures - ResearchGate, diakses
Februari 22, 2026, https://www.researchgate.net/publication/232191704_The_Role_of_Automation_in_Complex_System_Failures
- The
dangerous blind spot in critical infrastructure cybersecurity - The World
Economic Forum, diakses Februari 22, 2026, https://www.weforum.org/stories/2025/10/dangerous-blindspot-in-infrastructure-cybersecurity/
- What
are cybersecurity challenges for critical infrastructure? - GHD, diakses
Februari 22, 2026, https://www.ghd.com/en/explainers/digital/what-are-cybersecurity-challenges-for-critical-infrastructure
- Advancing
transparent algorithmic governance. A Case study in bias ..., diakses
Februari 22, 2026, https://revistas.ucm.es/index.php/CGAP/article/view/97604/4564456575748
- Transparency
and accountability in AI systems: safeguarding wellbeing in the age of
algorithmic decision-making - Frontiers, diakses Februari 22, 2026, https://www.frontiersin.org/journals/human-dynamics/articles/10.3389/fhumd.2024.1421273/full
- Evaluating
accountability, transparency, and bias in AI-assisted healthcare decision-
making: a qualitative study of healthcare professionals' perspectives in
the UK - PMC, diakses Februari 22, 2026, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12235780/
- Automated
Intrusion, Systemic Discrimination: Lack of Transparency and Perceived
Objectivity Perpetuate Biases in Algorithmic Tools - NewAmerica.org,
diakses Februari 22, 2026, https://www.newamerica.org/oti/reports/automated-intrusion-systemic-discrimination/lack-of-transparency-and-perceived-objectivity-perpetuate-biases-in-algorithmic-tools/
- Algorithmic
Accountability Toolkit - Amnesty International, diakses Februari 22, 2026,
https://www.amnesty.org/en/latest/research/2025/12/algorithmic-accountability-toolkit/
- ARTICLE
AUTOMATED DECISION-MAKING SYSTEMS AND BLACK BOX CHALLENGES UNDER EUROPEAN
UNION ADMINISTRATIVE LAW, diakses Februari 22, 2026, https://ir.lawnet.fordham.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=2918&context=ilj
- The
Algorithmic Problem in Artificial Intelligence Governance | United Nations
University, diakses Februari 22, 2026, https://unu.edu/article/algorithmic-problem-artificial-intelligence-governance
- Full
article: Locating fault for AI harms: a systems theory of foreseeability,
reasonable care and causal responsibility in the AI value chain - Taylor
& Francis, diakses Februari 22, 2026, https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/17579961.2025.2469345
- Full
article: Reducing the incidence of biased algorithmic decisions through
feature importance transparency: an empirical study - Taylor &
Francis, diakses Februari 22, 2026, https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/0960085X.2024.2395531
- AI
Risks that Could Lead to Catastrophe - Center for AI Safety (CAIS),
diakses Februari 22, 2026, https://safe.ai/ai-risk
- How
middle powers can weather US and Chinese AI dominance | 02 Why build
sovereign AI? - Chatham House, diakses Februari 22, 2026, https://www.chathamhouse.org/2026/02/how-middle-powers-can-weather-us-and-chinese-ai-dominance/02-why-build-sovereign-ai
- The
sovereign AI agenda: Moving from ambition to reality - McKinsey, diakses
Februari 22, 2026, https://www.mckinsey.com/capabilities/tech-and-ai/our-insights/tech-forward/the-sovereign-ai-agenda-moving-from-ambition-to-reality
- How
shared infrastructure can enable sovereign AI | World Economic Forum,
diakses Februari 22, 2026, https://www.weforum.org/stories/2026/02/shared-infrastructure-ai-sovereignty/
- (PDF)
AI Infrastructure Sovereignty - ResearchGate, diakses Februari 22, 2026, https://www.researchgate.net/publication/400704883_AI_Infrastructure_Sovereignty
- AI
Infrastructure Sovereignty - arXiv, diakses Februari 22, 2026, https://arxiv.org/html/2602.10900v1
- Vulnerable
World Hypothesis - Science, Technology & the Future, diakses Februari
22, 2026, https://www.scifuture.org/vulnerable-world-hypothesis/
- (PDF)
The Vulnerable World Hypothesis - ResearchGate, diakses Februari 22, 2026,
https://www.researchgate.net/publication/335661141_The_Vulnerable_World_Hypothesis
- The
Vulnerable World Hypothesis - Nick Bostrom, diakses Februari 22, 2026, https://nickbostrom.com/papers/vulnerable.pdf
- The
Vulnerable World Hypothesis - IEA/USP, diakses Februari 22, 2026, https://www.iea.usp.br/eventos/eventos-procedimentos-e-normas/materiais-de-referencia/the-vulnerable-world-hypothesis/
- Nick
Bostrom: Pleasure in a Solved World - Science, Technology & the
Future, diakses Februari 22, 2026, https://www.scifuture.org/nick-bostrom-pleasure-in-a-solved-world/
- If
all work is automated, what will humans be able to do? - Philosophy Stack
Exchange, diakses Februari 22, 2026, https://philosophy.stackexchange.com/questions/96710/if-all-work-is-automated-what-will-humans-be-able-to-do
- Book
Summary: Zero to One - LessWrong, diakses Februari 22, 2026, https://www.lesswrong.com/posts/7LZHS4afrXCNuuGK9/book-summary-zero-to-one
- Asian
Thought Leaders Use Eastern Wisdom To Reshape Conversations On AI And
Ethics, diakses Februari 22, 2026, https://www.diversityplus.com/web/Article.aspx?id=Asian-Thought-Leaders-Use-Eastern-Wisdom-To-Reshape-Conversations-On-AI-And-Ethics-6643
- A
Buddhist Perspective on AI: Cultivating freedom of attention and true
diversity in an AI future, diakses Februari 22, 2026, https://futureoflife.org/religion/a-buddhist-perspective-on-ai/
- Historical aspects of the philosophy of artificial intelligence - Energy Central, diakses Februari 22, 2026, https://www.energycentral.com/energy-management/post/historical-aspects-of-the-philosophy-of-artificial-intelligence-ewkYqItnjm16h01
- Assessing the Real Impact of Automation on Jobs | Stanford HAI, diakses Februari 22, 2026, https://hai.stanford.edu/news/assessing-the-real-impact-of-automation-on-jobs